MENU

Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts

8/20/11

MELAFALKAN NIAT BIDAH

Masalah hukum niat adalah wajib berasal dari hadist “innamal ‘amalu bin niyyati” (sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung dari niatnya), yang diriwayat-kan oleh Imam Bukhari sebagai dasar pengerjaan suatu amal. Dan semua ulama sepakat bahwa niat sebelum melakukan amal perbuatan ibadah adalah wajib!

Tetapi yang dipermasalahkan adalah apakah MELAFADZKAN NIAT atau BACAAN NIAT itu disyari’atkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, serta diikuti oleh para sahabat dan ulama salaf?

A. SIAPA PENGGAGAS LAFAZ NIAT?

Lafadz niat sangat masyhur dinisbatkan kepada mazhab Syafi’i, hal ini karena Abu Abdillah Al Zubairi yang masih termasuk dalam ulama mazhab Syafi’i telah menyangka bahwa Imam Asy-Syafi’i rahimahullah telah mewajibkan untuk melafazkan niat ketika shalat.

Sebabnya adalah pemahamannya yang keliru dalam mengiterpretasikan perkataan Imam Syafi’i yakni redaksi sebagai berikut:

“Jika seseorang berniat menunaikan ibadah haji atau umrah dianggap cukup sekalipun tidak dilafazkan. Tidak seperti shalat, tidak dianggap sah kecuali dengan AL NUTHQ (diartikan oleh Al Zubairi dengan melafazkan, sedangkan yang dimaksud dengan AL NUTHQ disini adalah takbir)” [al Majmuu’ II/43]

An Nawawi (seorang ulama pembesar mazhab Syafi’i) berkata: ”Beberapa rekan kami berkata:”Orang yang mengatakan hal itu telah keliru. Bukan itu yang dikehendaki oleh Asy Syafi’i dengan kata AL NUTHQ di dalam shalat, melainkan yang dimaksud dengan AL NUTHQ oleh beliau adalah takbir.” [al Majmuu’ II/43; lihat juga al Ta’aalaim: syaikh Bakar Abu Zaid: 100]

Ibn Abi Izz Al Hanafi berkata: ”Tidak ada seorang ulama pun dari imam 4 (mazhab), tidak juga Imam Syafi’i atau yang lainnya yang mensyaratkan lafaz niat. Menurut kesepakatan mereka, niat itu tempatnya dihati. Hanya saja sebagian ulama belakangan mewajibkan seseorang melafazkan niatnya dalam shalat. Dan pendapat ini dinisbatkan sebagai mazhab Syafi’i. Imam An Nawawi rahimahullahu berkata: ”Itu tidak benar” (Al Itbaa’: 62)

Ibn Qoyyim berkata: ”Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam jika hendak mengerjakan shalat, maka dia mengucapkan Allahu Akbar, dan beliau tidak mengucap-kan lafaz apapun sebelum itu dan tidak pernah melafazkan niat sama sekali. Beliau juga tidak mengucapkan:

“Ushali lillah shalaata kadzaa mustaqbilal qiblah arba’a raka’at imaaman aw ma’muuman” (artinya: aku berniat mengerjakan shalat ini dan itu karena Allah, mengha-dap kiblat sebanyak 4 raka’at sebagai imam atau makmum).

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengatakan adaa’aa atau qadhaa’an (artinya melakukannya secara tepat waktu atau qadha’). Dan tidak pernah juga menyebutkan kefardhuan waktu shalat. Semua itu adalah bid’ah yang tidak ada sumber-nya dari seorang pun baik dengan sanad yang sahih, dhaif, musnad (bersambung sanadnya), ataupun mursal (ada perawi yang gugur dalam sanadnya). Bahkan tidak juga dinukil dari seorang sahabat nabi, para tabi’in dan imam 4 (mazhab).

Pendapat ini muncul akibat sebagian ulama belakangan yang terkecoh dengan perkataan Imam Syafi’i radhiallahu anhu didalam masalah shalat. Redaksinya sebagai berikut: “Sesungguhnya shalat tidak sama dengan puasa. Tidak ada seorangpun yang akan memasuki shalat kecuali dengan DZIKIR.”

Kata dzikir disini dikira pe-lafaz-an niat oleh orang yang shalat. Padahal yang dimaksud oleh Imam Syafi’i dengan kata dzikir disini adalah TAKBIRATUL IHRAM. Bagaimana mungkin Imam Syafi’i mensunahkan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam, tidak juga oleh para khulafa’nya, dan para shaha-batnya. Demikianlah jalan hidup dan petunjuk yang mereka ajarkan,jika memang ada seseorang membawa berita satu huruf saja yang berasal dari beliau, maka kita akan menerimanya karena tidak ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk mereka dan tidak ada sunnah kecuali yang diambil dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam“ [Zaadul Ma’aad I/201; Ighatsatul Lahfaan I/136-139; I’laamul Muwaqqi’iin II/371; Tuhfatul Maulud: 93]

Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail Sulaiman al-Mishri berkata: “Perbuatan seperti ini tidak benar. Tidak ada dalil dari Qur’an dan Sunnah, tidak pula dari ijma’ dan qiyas jali (qiyas yang jelas dan benar) untuk perbuatan tersebut sebab tempat niat adalah di dalam hati. Adapun anjuran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengha-dirkan niat di dalam segala amalan, yaitu hadits beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya seluruh amal shaleh hanya diterima dengan niat yang ikhlas dan bagi setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan.” Maksudnya bukan melafalkan niat dengan lisan kita, baik dengan melirihkan ataupun mengeraskannya. Tidak ada satu riwayat pun yang dinukil dari beliau bahwa beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam melafal-kan niat ketika hendak shalat dan berpuasa. Tidak pernah beliau mengucapkan: “Sengaja aku berpuasa di bulan ramadhan pada tahun ini secara sempurna tanpa kekurangan…” dan mengulang-ngulanginya setiap malam ketika bersahur atau setelah shalat tarawih. Demikian pula dalam ibadah zakat dan lainnya.

Untuk lebih jelasnya, baiklah kita coba simak uraian pendapat para ulama salaf, sebagai orang-orang yang mengerti dan paham tentang sunnah dan perkataan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam serta mereka adalah para mufassirin (penafsir) makna ayat qur’an maupun hadist, mengenai LAFADZ NIAT (makna lafadz niat ini secara umum meliputi niat shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya).

B. HAKIKAT NIAT

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata dalam kitab Majmu’atur Rasaaili Kubra I/243: Tempatnya niat itu di hati tanpa (pengucapan) lisan berdasar kesepakatan para Imam Muslimin dalam semua ibadah: bersuci (thaharah), shalat, zakat, puasa, haji membebaskan budak (tawanan) serta berjihad dan yang lainnya. Meskipun lisannya mengucapkan berbeda dengan apa yang ia niatkan dalam hati, maka teranggap dengan apa yang ia niatkan dalam hati bukan apa yang ia lafadzkan. Walaupun ia mengucapkan dengan lisannya bersama niat, dan niat itu belum sampai ke dalam hatinya, hal ini belum mencukupi menurut kesepakatan para imam Muslimin. Maka sesungguhnya niat itu adalah jenis tujuan dan kehendak yang tetap.

Sehubungan dengan masalah niat, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan di dalam kitab ‘Ighasatul Lahfan’ bahwa: “Niat artinya ialah menyengaja dan bermaksud sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu. Dan tempatnya ialah di dalam hati, dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan lisan. Dari itu tidak pernah diberitakan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, begitu juga para sahabat, mengenai lafadz niat ini.”

Sedangkan hakikat niat itu sendiri BUKANLAH UCAPAN ‘NAWAITU’ (saya berniat). Ia adalah dorongan hati seiring dengan futuh (pembukaan terhadapnya), tetapi kadang-kadang juga sulit. Barangsiapa hatinya dipenuhi dengan urusan dien, akan mendapatkan kemudahan dalam menghadirkan niat untuk berbuat baik. Sebab ketika hati telah condong kepada pangkal kebaikan, ia pun akan terdorong untuk cabang-cabang kebaikan. Barangsiapa hatinya dipenuhi dengan kecenderungan kepada gemerlap dunia, akan mendapatkan kesulitan besar untuk menghadirkannya. Bahkan dalam mengerjakan yang wajib sekalipun. Untuk menghadirkannya ia harus bersusah payah.

Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani sendiri telah menjabarkan dengan panjang untuk penjelasan hadist “innamal ‘amalu binniyyati” dalam kitabnya “Fathul Baari bi Syarh al-Bukhari” (kitab yang menjelaskan tentang sanad & syarh dari hadist-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari), diantaranya yang bisa diambil adalah:

“Amal perbuatan adalah tergantung niatnya, dengan demikian kita dapat (dengan sendirinya) membedakan apakah niat shalat atau bukan, shalat fardhu atau sunnah, dhuhur atau ashar, di qashar atau tidak, dan seterusnya. Dan apakah masih perlu ditegaskan (kembali) jumlah rakaat shalat yang akan dikerjakan?... Tapi pendapat yang kuat menyatakan tidak perlu lagi menjelaskan jumlah bilangan rakaatnya, seperti seorang musafir yang berniat melakukan shalat qashar, ia tidak perlu (lagi) menegaskan bahwa jumlah rakaatnya adalah dua, karena itu merupakan suatu hal yang pasti bahwa jumlah rakaat qashar adalah dua!”

Dan beliau juga menjelaskan makna niat dari perkataan Imam Baidhawi: “Niat adalah dorongan hati untuk melakukan sesuatu dengan tujuan, baik mendatangkan manfaat atau menolak mudharat, sedangkan syariat adalah sesuatu yang membawa kepada perbuatan yang diridhai Allah dan mengamalkan segala perintah-Nya.”

1. MASALAH BACAAN NIAT DALAM SHALAT

Masalah melafadzkan bacaan niat dalam shalat ini, tidak ada satu orang perawi hadist pun dari 6 orang imam (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, dan Ibnu Majah) yang memuat dalam Kuttubus Sittah, termasuk Imam Ahmad dalam kitab “Musnad Ahmad” dan al-Hakim dalam kitab “Mustadrak”, yang meriwayatkan tentang bacaan niat shalat begini dan begitu, dan seterusnya dengan bermacam-macam bacaan/ lafadz sesuai dengan masing-masing jenis shalat.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata dalam kitab ‘Zaadul Ma’ad’: “Sesung-guhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bila berdiri untuk bershalat, beliau berdiri dengan tegak ke arah kiblat disertai khusyu’ lalu bertakbir’Allahu Akbar’, tanpa suatu ucapan lain atau melafadzkan niat usholli lillahi, shalat ini dan itu, mustaqbilal qiblati arbaah rakaat imaaman atau makmuman, juga tidak mengucap adhaan atau qadhaan, atau fardhu atau sebagainya.”

Kemudian beliau menambahkan: “Tidak mengucapkan apapun sebelumnya atau melafadkan niatnya dan tidak pula hal tersebut dianjurkan oleh para tabi’in atau imam para madzhab.”

Imam Ahmad bin Hambal mengomentari masalah niat dalam shalat dengan berkata: “Ini (melafadzkan niat usholli) adalah sepuluh macam bid’ah, tidak ada yang meriwayatkan dengan sanad shahih atau dhoif, musnad atau mursal, bahkan tidak ada seorang dari sahabatnya atau dari pada tabi’in yang mengerjakannya.”

Imam An-Nawawi (salah satu imam madzhab Syafi’i) mengatakan di dalam ‘Raudhatu ‘th-Thalibin’ I/224, Al-Maktab Al-Islami: “Niat adalah maksud. Orang yang shalat hendaklah menghadirkan di dalam ingatannya dzat shalat itu sendiri dan sifat-sifatnya yang wajib ia lakukan, seperti Zhuhriyah dan Fardhiyah dan lain-lain. Kemudian, ia memasukkan pengetahuan-pengetahuan ini secara sengaja dan menghu-bungkan dengan awal takbir.”

Muhammad Nashruddin Al-Albani (Berkata): Niat, yaitu: menyengaja untuk shalat menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, serta menguatkannya dalam hati sekaligus. Dan tidaklah disebutkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari salah seorang sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan atau mengucapkan:

“Usholli fardhu ... rak’ah Lillahi Ta’ala” atau ucapan sejenisnya.

Berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat dengan kata-kata’Allahu Akbar’ (HR. Muslim dan Ibnu Majah). Di dalam hadist ini terdapat sebuah isyarat bahwasannya ia belum pernah membuka shalat dengan ucapan seperti yang mereka ucapkan ‘Nawaitu an usholli…’ (aku berniat shalat). Bahkan telah disepakati bahwa hal ini adalah bid’ah. Dan mereka hanya berselisih apakah bid’ah seperti itu baik atau buruk. Sedangkan kami mengatakan bahwa setiap bid’ah di dalam ibadah itu adalah merupakan suatu kesesatan. Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam: ”Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap sesat neraka tempatnya.”

Dishahihkan pula oleh Sayyid Sabiq dalam ‘Fiqhus Sunnah’ bahwa: “Dan ungkapan-ungkapan yang dibuat-buat dan diucapkan pada permulaan bersuci dan shalat ini, telah dijadikan oleh syaitan sebagai arena pertarungan bagi orang-orang yang diliputi was-was, yang menahan dan menyiksa mereka dalam lingkaran tersebut, dan menuntut mereka untuk menyempurnakannya. Maka anda lihat masing-masing mereka mengulang-ulanginya dan bersusah payah untuk melafadzkannya, pada hal demikian itu sama sekali tidak termasuk dalam upacara shalat.”

Al-Qadhi Jamaludin Abu Rabi Sulaiman bin Umar As-Syafi’i (seorang pembesar ulama mazhab Syafi’i), ia berkata: “Mengeraskan dan membaca niat bagi makmum tidak termasuk sunnah, bahkan makruh. Jika hal itu menimbulkan gangguan (membuat bising) kepada jama’ah shalat, maka hukumnya haram. Barangsiapa yang mengatakan bahwa mengeraskan niat adalah sunnah, maka ia keliru. Haram baginya dan lainnya berbicara dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala tanpa didasari ilmu.” Al A’lam 3/194

Syaikh ‘Alauddin Al ‘Athhor, beliau berkata: meninggikan (niat) suara hingga menimbulkan kebisingan/gangguan kepada jama’ah shalat adalah haram secara ijma’, apabila tidak demikian (tidak menimbulkan gangguan) maka bid’ah yang keji. Jika dimaksudkan dalam melafadzkan niat itu riya’, adalah haram dari 2 sisi yakni dosa besar dari dosa-dosa besar.

Adalah benar mengingkari orang yang mengatakan bahwa melafadzkan niat itu dari sunnah. Membenarkan (niat dengan lafadz) adalah kekeliruan, dan menisbahkan keyakinan demikian pada agama ini adalah kekufuran!!….dst.” lih. Majmu Ar Rosail al Kubro 1/254

Abu Abdillah Muhammad bin Qasim at-Tunisi al-Maliki, ia berkata: “Niat termasuk amalan hati. Maka mengeraskannya adalah bid’ah dan perbuatan itu juga menganggu orang lain.”

Imam Abu Dawud pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal,: “Apakah seorang yang hendak shalat ada membaca sesuatu sebelum takbir?” Beliau menjawab, “Tidak ada!”

Imam As-Suyuthi (salah seorang imam madzhab Syafi’i) berkata: “Juga termasuk perbuatan bid’ah, adalah was-was di dalam niat shalat. Perbuatan ini tidak dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya. Mereka tidak mengucapkan niat ketika shalat, mela-inkan hanya takbir.”

Imam Asy-Syafi’iy berkata: “Was-was dalam niat shalat termasuk kejahilan tentang syariat atau kebodohan akal.”

Ibnu Jauzy berkata: “Diantara tipu daya iblis adalah menipu mereka dalam niat shalat. Diantara mereka ada yang berkata, ‘Sengaja aku shalat ini dan ini,’ kemudian ia mengulanginya lagi karena ia mengira niatnya telah batal, padahal niatnya tidak gugur walaupun ia melafalkan apa yang tidak dimaksudkannya.”

2. MASALAH BACAAN NIAT DALAM SHAUM (PUASA)

Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam(yang artinya):

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam harinya maka tidak ada puasa baginya.” [HR An-Nasa’i (4/196), Al-Baihaqi (4/202), Ibnu Hazm (6/162)]

Niat itu tempatnya di hati, melafadzkannya adalah bid’ah yang sesat walaupun manusia menganggapnya baik, kewajiban untuk berniat sejak malam itu khusus bagi puasa wajib, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang ke Aisyah selain bulan ramadhan beliau berkata “Apakah engkau punya santapan siang? kalau tidak ada, aku berpuasa”. [HR Muslim/1154]

Hal ini juga dilakukan oleh para shahabat: Abu Darda’, Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhum kita dibawah bendera sayyidnya bani Adam.

Ini berlaku dalam puasa sunnah menunjukan wajibnya niat di malam hari sebelum terbit fajar dalam puasa wajib , Wallahu Ta’ala A’lam.

3. MASALAH MELAFAZKAN NIAT DALAM HAJI DAN UMRAH

Adapun melafadzkan niat hanya ada dalam ibadah Haji atau Umrah, itupun hadistnya tidak shahih, sehingga lafadz niat yang diucapkan dihukumi sebagai sunnah hanya pada kondisi apabila seseorang sedang menghajikan orang lain (badal haji). Untuk keterangan lebih lengkap bisa dibaca sedikit fatwa dari Syaikh Ibnu Utsaimin dibawah ini.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apakah boleh melafazkan niat untuk melaksanakan umrah, haji, thawaf, atau sa’i? Dan kapan boleh mengucapkan niat?

Jawaban (beliau): Melafazkan niat tidak terdapat keterangan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam shalat (fardhu maupun sunnah), thaharah, puasa, bahkan dalam semua ibadah yang dilakukan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam termasuk haji dan umrah. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika ingin haji atau umrah tidak mengatakan: “Ya Allah, saya niat ingin demikian dan demikian”.

Tidak terdapat riwayat dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam demikian itu dan beliau juga tidak pernah memerintahkan kepada seorang pun dari sahabatnya”.

Yang ada dalam hal ini hanya bahwa Dhaba’ah binti Zubair, semoga Allah meridhainya, mengadu kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia ingin haji dan dia sakit. Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

“Artinya: Berhajilah kamu dan syaratkan, bahwa tempatku ketika aku tertahan. Sebab yang dinilai oleh Allah untukmu, apa yang kamu kecualikan” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Sesungguhnya perkataan di sini dengan lisan. Sebab akad haji sama dengan nadzar. Dan bila manusia niat untuk bernazdar dalam hatinya maka demikian itu bukan nadzar dan tidak berlaku hukum nadzar. Karena haji seperti nadzar dalam keharusan menepatinya jika telah merencanakannya (niat), maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Dhaba’ah untuk mensyari’atkan dengan mengatakan: “Jika aku terha-lang oleh halangan apapun, maka tempatku ketika aku terhalang”. Adapun hadits yang menyatakan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata: “Shalatlah kamu di lembah yang diberkati Allah ini, dan katakanlah: “Umrah dalam haji atau umrah dan haji”.

Maka demikian itu bukan berarti bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengucapkan niat. Tetapi maknanya bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan manasiknya dalam talbiyahnya. Karena Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak pernah mengucapkan niat. Talbiyah sebagaimana dilakukan orang-orang yang haji dan umrah, yaitu:

“Artinya: Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah dan tiada sekutu apapun bagi-Mu. Sesungguhnya puji, nikmat dan kekuasaan hanya bagi-Mu tanpa sekutu apapun bagi-Mu. Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, Rabb kebenaran”

Tempat niat di dalam hati, bukan di lisan. Adapun bagaimana cara niat haji karena mewakili orang lain? Caranya adalah agar seseorang niat dalam hatinya bahwa dia akan haji atas nama fulan bin fulan. Demikian itulah niat.

Namun untuk itu dia disunnahkan melafazkan seperti dengan mengatakan: Labbaik Allahumma Hajjan an Fullan“ (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk haji atas nama Fulan), atau “Labbaik Allahumma ‘Umratan ‘an Fulan “ (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah atas nama Fulan) hingga apa yang ada dalam hati dikuatkan dengan kata-kata. Sebagaimana para sahabat juga melafazkan demikian itu seperti diajarkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka mengeraskan suara mereka. Ini adalah sunnah.

Dan dalam suatu riwayat dikatakan, bahwa Abdullah bin Umar mendengar seseorang berkata ketika sedang berihram: ”Ya Allah,sesungguhnya hamba ingin melaku-kan haji dan umrah.” Maka Ibnu Umar berkata kepadanya: ”Apakah engkau memberi-tahukan (niatmu) itu kepada orang lain? Dan bukankah Allah lebih mengetahui isi hatimu? Padahal niat itu adalah kehendak hati dan tidak wajib dilafazkan dalam beribadat.” (riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Jami’ul Uluum wal Hikam: 19)

BANTAHAN SUBHAT TENTANG NIAT YANG DILAFALKAN



Melafalkan niat tidak ada asalnya (tidak memiliki landasan) dalam agama Islam. Akan tetapi, hanya merupakan salah paham beberapa orang dari perkataan Imam Syafi’i ketika beliau mengatakan bahwa seseorang tidak sah (untuk) melakukan shalat kecuali harus dengan ucapan. Maksud dari ucapan beliau adalah ucapan takbiratul ihram, tetapi mereka menafsirkan dengan tafsir yang salah, yaitu melafalkan niat.

Sebagai bukti maksud perkataan Imam Syafi’i adalah takbiratul ihram dan bukan melafalkan niat adalah sebagai berikut:

- Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Imam Syafi’i sendiri langsung membahas masalah takbiratul ihram.
- Tidak ada satu pun hadits yang shahih tentang melafalkan niat. Bahkan, tidak ada hadits yang lemah sekalipun tentang hal itu.
- Melafalkan niat tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, para sahabatnya, para tabi’in, dan empat imam mazhab sekalipun.

Orang-orang yang mengajarkan supaya melafalkan niat, ternyata berbeda-beda dalam lafalnya, padahal mereka semua mengaku bermadzhab Syafi’i. Ini menunjukkan bahwa imam mereka memang tidak pernah mengatakan hal ini dan mereka hanya membuat-buat tanpa dasar (hanya berdasarkan akal mereka).

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa niat cukup dalam hati, karena inilah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat. Beliau berdiri menghadap kiblat dan langsung bertakbir tanpa melafalkan niat.


http://konsultasisyariah.com/


8/13/11

KESALAHAN SHALAT TARAWEH

Qiyamul Lail di bulan Ramadhan adalah sebuah amalan yang besar. Di bulan Ramadhan ini perkara yang sunnah diberi ganjaran seperti perkara wajib dan yang wajib akan dilipat gandakan. Jadi jangan remehkan amalan sekecil apapun,sebab amalan itu akan sangat-sangat besar di bulan Ramadhan karena Allah akan melipat gandakan amalan ini. Dan di bulan Ramadhan ada yang namanya shalat Tarawih. Seperti yang dijelaskan di www.muslim.or.id bahwa “Tarawih merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah. Secara bahasa berarti jalsah (duduk). Kemudian perbuatan duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai shalat malam 4 rakaat disebut tarwihah;karena dengan duduk itu orang-orang bisa beristirahat setelah lama melaksanakan qiyam Ramadhan.”

Kesalahan-kesalahan yang umum terjadi pada shalat tarawih adalah sebagai berikut:

1. Adanya Bilal. Bilal ini adalah seseorang yang berseru seperti,“Sholu sunnatat tarowihi jami’a rahimahumullah,ash sholaatu illaaha illallaah,Allahumma sholi ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ‘alii Muhammad”. Kurang lebih seperti itu. Dan di tiap-tiap 2 raka’at selalu diulang seperti ini,demikian juga witir. Ini adalah sebuah kekeliruan,sebab rasululloh shallallahu’alaihi wa salam tidak pernah mengajarkan hal ini. Bahkan rasululloh shallallahu’alaihi wa salam sendiri mengerjakan shalat tarawih sendiri dengan istirahat. Berbeda dengan yang dilakukan oleh orang-orang sekarang ini,tidak ada istirahat di tiap 4 raka’atnya. Yang afdhol dan sesuai sunnah adalah dengan istirahat. Seperti yang dilakukan masjid di kampung saya,malah ada yang sholatnya kilat. Hukum sholat kilat sudah kita ketahui bahwa sholatnya tidak sah dan harus mengulang. Karena tuma’ninahnya ndak ada.

2. Shalat tidak dilakukan dengan tuma’ninah. Di beberapa masjid kita bisa menjumpai shalat tarawih berjama’ahnya sangat cepat,bahkan saya sendiri sampai tidak bisa mengimbangi karena saking cepatnya. Tuma’ninah sebagaimana yang rasululloh shallallahu’alaihi wa salam contohkan adalah setiap bagian sholat mendapatkan nilainya. Ketika ruku’maka benar-benar punggung harus lurus dan bacaannya juga benar,tidak tergesa-gesa. Kemudian ketika i’tidal juga tulang-tulang itu kembali lurus,ketika sujud benar-benar sujud. Bahkan kalau tiap bagian shalat itu tidak mendapatkan hak-nya maka rasululloh shallallahu’alaihi wa salam menyuruh untuk diulang.

3. Mewajibkan adanya kultum di shalat tarawih. Ini juga kesalahan sebab kultum itu bukan wajib,tapi hanya sebagai pengisi saja karena kemungkinan saat itu banyak jama’ahnya sehingga sangat percuma sekali kalau tidak diisi tausiyah,karena ini juga bulan Ramadhan. Ini tidak mengapa,asalkan tidak mewajibkan.

4. Berdzikir setelah shalat witir dengan bacaan,“Subhanallahil Malikil Qudus,Subhanallahil Malikil Qudus,Subhanallahil Malikil Qudus,Subuhun Qudusun,Rabbul Malaaikati warruuh,Subuhun Qudusun,Rabbul Malaaikati warruuh,Subuhun Qudusun,Rabbul Malaaikati warruuh”. Ini tidak ada dasarnya,sebab rasululloh shallallahu’alaihi wa salam hanya mengajarkan:“Subhanallahil Malikil Qudus,Subhanallahil Malikil Qudus,Subhanallahil Malikil Qudus”kemudian pada yang ketiga beliau membaca suaranya dengan suara keras,disambung dengan “Rabbul Malaaikati Warruuh”. Yang ini haditsnya shahih dari Imam Nasa’i dan Imam Daraquthni. Sedangkan yang dibaca orang-orang tadi tidak ada dasarnya.

5. Menjelang 1 Syawwal masjid-masjid malah sepi,bahkan yang awalnya penuh shafnya sampai ke belakang malah semakin ke depan. Padahal 10 hari terakhir adalah hari-hari yang paling baik di bulan Ramadhan,karena pada sepuluh hari terakhir ada Lailatul Qadar yang nilai 1 malam adalah sama dengan 1.000 bulan.

6. Setelah sholat witir dan dzikir ramai-ramai mengucapkan Nawaitu Shoumaghadin dst. Ini merupakan hal yang tidak pernah diajarkan oleh Rasululloh shallallahu’alaihi wa salam. Sebab niat itu ada di dalam hati bukan dilafazhkan. Dan jumhur ulama berkata demikian. Kalaupun memang niat itu dilafazhkan seharusnya setiap orang itu melafazhkan niat mereka ketika makan,tidur,mandi dan sebagainya. Nyatanya rasululloh shallallahu’alaihi wa salam tak pernah melafazhkan niat satupun,entah itu niat shalat,puasa dan sebagainya.

7. Bubar sebelum shalat selesai. Hal ini sering terjadi ketika kita melihat banyak jama’ah yang bubar ketika shalat witir mau dimulai,padahal yang benar adalah mengikuti shalat dengan imam sampai selesai agar mendapatkan pahala shalat semalam suntuk. Sekalipun alasannya adalah “witir di rumah”,tetap yang paling utama dan afdhal adalah shalat bersama imam sampai selesai.

Demikian kesalahan-kesalahan yang biasanya saya temukan,semoga kesalahan-kesalahan ini bisa diperbaiki dan tidak diulang lagi oleh kita semua. Sebab Setiap amalan yang tidak bersumber dari Allah dan Rasul-Nya,maka amalan tersebut tertolak. Wallahua’lam bishawab.

8/10/11

WAJIB MEMILIKI BAGI YANG NGAKU ISLAM

Ini adalah buku berpormat PDF yang insya allah bermanfaat khusus untuk ahirat
silahkan dicopy link ini
KITAB TAUHID
>>> http://www.ziddu.com/downloadlink/15800121/KITABTAUHID-SyaikhMuhammadbinAbdulWahabAtTamimi.CHM

SHOLAT YANG MENDEKATI SUNAH
>>> http://www.ziddu.com/downloadlink/15800122/Ibadah-SifatSholatNabi.chm

HADITS ARBAIN NAWAWIYAH
>>> http://www.ziddu.com/downloadlink/15800120/SyarahulArbaiinaHadiitsanAn-Nawawiyah.chm

SEMOGA MANFAAT












7/19/11

JUMLAH RAKAAT TARAWIH

Shalat Tarawih (1): Jumlah Raka’at Pilihan Nabi

Shalat ini dinamakan tarawih yang artinya istirahat karena orang yang melakukan shalat tarawih beristirahat setelah melaksanakan shalat empat raka’at. Shalat tarawih termasuk qiyamul lail atau shalat malam. Akan tetapi shalat tarawih ini dikhususkan di bulan Ramadhan. Jadi, shalat tarawih ini adalah shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan.[1]

Adapun shalat tarawih tidak disyariatkan untuk tidur terlebih dahulu dan shalat tarawih hanya khusus dikerjakan di bulan Ramadhan. Sedangkan shalat tahajjud menurut mayoritas pakar fiqih adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah bangun tidur dan dilakukan di malam mana saja.[2]

Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih hukumnya adalah sunnah (dianjurkan). Bahkan menurut ulama Hanafiyah, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum shalat tarawih adalah sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan). Shalat ini dianjurkan bagi laki-laki dan perempuan. Shalat tarawih merupakan salah satu syi’ar Islam.[3]

Imam Asy Syafi’i, mayoritas ulama Syafi’iyah, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa lebih afdhol shalat tarawih dilaksanakan secara berjama’ah sebagaimana dilakukan oleh ‘Umar bin Al Khottob dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Kaum muslimin pun terus menerus melakukan shalat tarawih secara berjama’ah karena merupakan syi’ar Islam yang begitu nampak sehingga serupa dengan shalat ‘ied.[4]

Keutamaan Shalat Tarawih

Pertama, akan mendapatkan ampunan dosa yang telah lalu.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi.[5] Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya.[6]

Yang dimaksud “pengampunan dosa” dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. Namun An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa kecil.[7]

Kedua, shalat tarawih bersama imam seperti shalat semalam penuh.

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.”[8] Hal ini sekaligus merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengikuti imam hingga selesai.

Ketiga, shalat tarawih adalah seutama-utamanya shalat.

Ulama-ulama Hanabilah (madzhab Hambali) mengatakan bahwa seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan dilakukan secara berjama’ah. Karena shalat seperti ini hampir serupa dengan shalat fardhu. Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat rawatib (shalat yang mengiringi shalat fardhu, sebelum atau sesudahnya). Shalat yang paling ditekankan dilakukan secara berjama’ah adalah shalat kusuf (shalat gerhana) kemudian shalat tarawih.[9]

Shalat Tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.”[10]

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ ، فَصَلَّى فِى الْمَسْجِدِ ، فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلاَتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا ، فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّوْا مَعَهُ ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ ، فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ ، فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ ، فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ « أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَىَّ مَكَانُكُمْ ، لَكِنِّى خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid, orang-orang kemudian mengikuti beliau dan shalat di belakangnya. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan beliau. Dan pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk shalat dan mereka shalat bersama beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jama’ah hingga akhirnya beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak membaca syahadat lalu bersabda: “Amma ba’du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian, sementara kalian tidak mampu.”[11]

As Suyuthi mengatakan, “Telah ada beberapa hadits shahih dan juga hasan mengenai perintah untuk melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan dan ada pula dorongan untuk melakukannya tanpa dibatasi dengan jumlah raka’at tertentu. Dan tidak ada hadits shahih yang mengatakan bahwa jumlah raka’at tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 20 raka’at. Yang dilakukan oleh beliau adalah beliau shalat beberapa malam namun tidak disebutkan batasan jumlah raka’atnya. Kemudian beliau pada malam keempat tidak melakukannya agar orang-orang tidak menyangka bahwa shalat tarawih adalah wajib.” [12]

Ibnu Hajar Al Haitsamiy mengatakan, “Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at. Adapun hadits yang mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (tarawih) 20 raka’at”, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.”[13]

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah dho’if. Hadits ‘Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini. Padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya. Wallahu a’lam.”[14]

Jumlah Raka’at Shalat Tarawih yang Dianjurkan

Jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat.

Juga terdapat riwayat dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ

“Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764). Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari[15]. Di antara dalilnya adalah ‘Aisyah mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّىَ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan shalat malam, beliau buka terlebih dahulu dengan melaksanakan shalat dua rak’at yang ringan.”[16] Dari sini menunjukkan bahwa disunnahkan sebelum shalat malam, dibuka dengan 2 raka’at ringan terlebih dahulu.


Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

kesalahan yang dilakukan di bulan Ramadhan

Berikut adalah beberapa kesalahan yang dilakukan di bulan Ramadhan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin. Semoga dengan mengetahui hal ini, kita dapat membetulkan kekeliruan yang selama ini terjadi.
1. Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan



Tidaklah tepat ada yang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

2. Padusan, Mandi Besar, atau Keramasan Menyambut Ramadhan

Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”) ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!

3. Menetapkan Awal Ramadhan dengan Hisab

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا
”Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula mengenal hisab. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Bazizah mengatakan,”Madzhab ini (yang menetapkan awal ramadhan dengan hisab) adalah madzhab bathil dan syari’at ini telah melarang mendalami ilmu nujum (hisab) karena ilmu ini hanya sekedar perkiraan (dzon) dan bukanlah ilmu yang pasti (qoth’i) atau persangkaan kuat. Maka seandainya suatu perkara (misalnya penentuan awal ramadhan, pen) hanya dikaitkan dengan ilmu hisab ini maka agama ini akan menjadi sempit karena tidak ada yang menguasai ilmu hisab ini kecuali sedikit sekali.” (Fathul Baari, 6/156)

4. Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ فَلْيَصُمْهُ
“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Nasa’i)
Pada hari tersebut juga dilarang untuk berpuasa karena hari tersebut adalah hari yang meragukan. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
”Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, pen).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

5. Melafazhkan Niat “Nawaitu Shouma Ghodin”

Sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali untuk melafazhkan niat semacam ini karena tidak adanya dasar dari perintah atau perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dari para sahabat. Letak niat sebenarnya adalah dalam hati dan bukan di lisan. An Nawawi rahimahullah –ulama besar dalam Madzhab Syafi’i- mengatakan,

لا يَصِحُّ الصَّوْمَ إِلَّا بِالنِّيَّةِ وَمَحَلُّهَا القَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلاَ خِلَافٍَ
“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, I/268, Mawqi’ul Waroq-Maktabah Syamilah)

6. Membangunkan Sahur ... Sahur

Sebenarnya Islam sudah memiliki tatacara sendiri untuk menunjukkan waktu bolehnya makan dan minum yaitu dengan adzan pertama sebelum adzan shubuh. Sedangkan adzan kedua ketika adzan shubuh adalah untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Inilah cara untuk memberitahukan pada kaum muslimin bahwa masih diperbolehkan makan dan minum dan memberitahukan berakhirnya waktu sahur. Sehingga tidak tepat jika membangunkan kaum muslimin dengan meneriakkan sahur ... sahur .... baik melalui speaker atau pun datang ke rumah-rumah seperti mengetuk pintu. Cara membangunkan seperti ini sungguh tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah dilakukan oleh generasi terbaik dari ummat ini. Jadi, hendaklah yang dilakukan adalah melaksanakan dua kali adzan. Adzan pertama untuk menunjukkan masih dibolehkannya makan dan minum. Adzan kedua untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memiliki nasehat yang indah, “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian.”(Lihat pembahasan at tashiir di Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 334-336)

7. Pensyariatan Waktu Imsak (Berhenti makan 10 atau 15 menit sebelum waktu shubuh)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ يَهِيدَنَّكُمُ السَّاطِعُ الْمُصْعِدُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ الأَحْمَرُ
“Makan dan minumlah. Janganlah kalian menjadi takut oleh pancaran sinar (putih) yang menjulang. Makan dan minumlah sehingga tampak bagi kalian warna merah.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan shahih). Maka hadits ini menjadi dalil bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum) adalah sejak terbit fajar shodiq –yaitu ketika adzan shubuh dikumandangkan- dan bukanlah 10 menit sebelum adzan shubuh. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hadits Anas dari Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas berkata,”Berapa lama jarak antara iqomah dan sahur kalian?” Kemudian Zaid berkata,”Sekitar 50 ayat”. (HR. Bukhari dan Muslim). Lihatlah berapa lama jarak antara sahur dan iqomah? Apakah satu jam?! Jawabnya: Tidak terlalu lama, bahkan sangat dekat dengan waktu adzan shubuh yaitu sekitar membaca 50 ayat Al Qur’an (sekitar 10 atau 15 menit).

8. Do’a Ketika Berbuka “Allahumma Laka Shumtu”

Ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam Sunan Abu Daud no. 2357, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan hal ini adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta oleh para ulama pakar hadits. (Lihat Dho’if Abu Daud no. 2011 dan catatan kaki Al Adzkar yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy).
Do’a yang dianjurkan ketika berbuka adalah,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” (HR. Abu Daud. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud)

9. Dzikir Jama’ah dengan Dikomandoi dalam Shalat Tarawih dan Shalat Lima Waktu

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah tatkala menjelaskan mengenai dzikir setelah shalat, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dizkir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/189).

10. “Ash Sholaatul Jaami’ah” untuk Menyeru Jama’ah dalam Shalat Tarawih

Ulama-ulama hanabilah berpendapat bahwa tidak ada ucapan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan “Ash Sholaatul Jaami’ah”. Menurut mereka, ini termasuk perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9634, Asy Syamilah)

11. Bubar Terlebih Dahulu Sebelum Imam Selesai Shalat Malam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam. Itulah yang lebih tepat.

12. Perayaan Nuzulul Qur’an

Perayaan Nuzulul Qur’an sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ
“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”

Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11)

13. Membayar Zakat Fithri dengan Uang

Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan, “Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fithri, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membayar zakat fithri dengan uang, tentu para sahabat –radhiyallahu ‘anhum- akan menukil berita tersebut. Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membayar zakat fithri dengan uang. Padahal para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fithri dengan uang, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita). “. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 14/208-211)

14. Tidak Mau Mengembalikan Keputusan Penetapan Hari Raya kepada Pemerintah

Al Lajnah Ad Da’imah, komisi Fatwa di Saudi Arabia mengatakan, “Jika di negeri tersebut terjadi perselisihan pendapat (tentang penetapan 1 Syawal), maka hendaklah dikembalikan pada keputusan penguasa muslim di negeri tersebut. Jika penguasa tersebut memilih suatu pendapat, hilanglah perselisihan yang ada dan setiap muslim di negeri tersebut wajib mengikuti pendapatnya.” (Fatawa no. 388)

Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, sifat ‘afaf (menjauhkan diri dari hal yang tidak diperbolehkan) dan memberikan kita kecukupan. Semoga Allah memperbaiki keadaan setiap orang yang membaca risalah ini.

Wa shallallahu wa salaamu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com

7/12/11

ILMU KLAM YANG JAUH SEKALI DENGAN ISLAM

Peringatan Para Ulama Tentang Bahaya Filsafat
Posted on July 28, 2008 by iemasen
Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kami memujinya, memohon pertolongan-Nya dan memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amal-amal kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tak akan ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya.
Saya bersaksi bahwa tak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, yang tak ada sekutu baginya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du. Sesungguhnya perkara yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam. Seburuk- buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, sedangkan bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah neraka.
Menyadari betapa besar kerusakan yang ditimbulkan filsafat terhadap pemahaman kaum muslimin terhadap agamanya, maka para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dulu dan sekarang tiada henti-hentinya memperingatkan umat Islam dari bahaya filsafat. Ilmu filsafat dikembangkan dalam bentuk-bentuk baru seperti ilmu kalam, ilmu mantiq, ilmu falaq, dan lain lain. Ini adalah dalam rangka mengelabui umat Islam dari pertentangan filsafat dengan islam sehingga menyeret umat Islam keluar dari agamanya tanpa terasa.
Dalam hal ini Al-Hafidh Jamaluddin Abil Faraj Abdurrahman Ibnul Jauzi Al-Baghdadi rahimahullah (meninggal tahun 597 Hijriah),beliau menerangkan dalam kitab karyanya berjudul Talbis Iblis (Perangkap Iblis) halaman 82 (cet. Matba’ah An-Nahdlah, tahun 1928 M): “Sesungguhnya iblis apabila telah berhasil menyesatkan orang-orang bodoh dengan menjerumuskan mereka ke dalam sikap taqlid (yakni mengikuti tanpa mengerti, pent) dan menggiring mereka seperti menggiring binatang ternak. Iblis pun kemudian melirik golongan lain dari Bani Adam yang mereka ini mempunyai kecerdasan dan kepandaian. Maka mereka pun disesatkan sesuai dengan kadar kemampuannya menguasai mereka. Maka sebagian dari mereka digiring; kepada kesan betapa jeleknya kejumudan dalam bertaqlid dan dianjurkan setelah itu untuk memahami agama dengan akal pikirannya sendiri dan kemudian setiap dari mereka disesatkan dengan berbagai cara. Sebagian mereka disesatkan dengan satu kesan, bahwa terpaku dengan pengertian dhahir syariat adalah kelemahan, sehingga mereka digiring kepada salah satu dari madzhab-madzhab filsafat. Dan terus mereka berkembang dalam madzhab filsafat itu dalam memahami makna batin syariah, sehingga filsafat itu mengeluarkan mereka dari Islam.
Selanjutnya Ibnul Jauzi menegaskan: “Dari mereka ini ada pula yang disesatkan oleh Iblis dengan digiring kepada kesan baiknya prinsip tidak mempercayai adanya sesuatu kecuali kalau sesuatu itu bisa dirasakan keberadaannya oleh panca indera Dikatakan kepada mereka: Dengan panca indera, kalian bisa mengetahui bukti kebenaran omongan kalian.” Kemudian beliau menambahkan: “Dan sebagian mereka (orang-orang yang cerdas dan pandai) itu ada yang ditanamkan rasa benci oleh iblis terhadap taqlid dan sebagai gantinya ditanamkan semangat mendalami ilmu kalam dan meneladani sepak tejang kaum filosof, agar dengan cara demikian mereka bisa keluar dari lingkup orang awam. Demikianlah anggapan mereka. Padahal sesungguhnya beraneka ragam kesesatan para ahli ilmu kalam yang dengan ilmu kalam itu telah menjerumuskan mayoritas mereka kepada berbagai keraguan dan bahkan sebagian mereka telah tejerumus kepada atheisme. Dan para ulama ahli fikih terdahulu dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka diam, tidak man bicara tentang ilmu kalam, bukannya karena mereka tidak mampu untuk berbicara tentang hal tersebut, tetapi karena semata-mata karena mereka melihat bahwa ilmu kalam ini tidak akan menghilangkan dahaga orang yang haus dan kemudian orang yang sehat dengan ilmu ini tidak bisa menolak penyakit. Oleh karena itu mereka para ulama menahan diri untuk berbicara tentang ilmu ini dan mereka melarang umat untuk mendalami ilmu ini.
Sehingga Al-Imam Syafi’i mengatakan: “Sungguh seandainya seorang hamba Allah terjatuh pada segenap apa yang dilarang oleh Allah selain syirik, lebih baik baginya daripada mempelajari ilmu kalam.” Beliau (Imam Syafi’i) menyatakan pula: “Apabila engkau mendengar ada seseorang memperdebatkan tentang apakah nama Allah itu menunjukkan sifatnya atau tidak menunjukkannya, maka persaksikaniah bahwa orang yang berbicara demikian ini adalah ahli ilmu kalam, dan orang demikian ini tidak ada agamanya.” Juga beliau menyatakan: “Hukuman terhadap ulama ilmu kalam ialah mereka ini dipukul dengan pelepah kurma dan kemudian dikelilingkan di berbagai kampung dan kabilah untuk dinyatakan di hadapan mereka: Inilah balasan bagi orang yang meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan terjun dalam ilmu kalam.”
Berkata Al-Imam Ahmad bin Hanbal: “Tidak akan selamat selamanya orang yang berpegang dengan ilmu kalam. Ulama ilmu kalam itu adalah’para zindiq (yakni orang-orang yang menyembunyikan di hatinya kekafiran, tetapi menampakkan keimanan).” Demikianlah Ibnul Jauzi membawakan keterangan dan menukil perkataan ulama Ahlus sunnah tentang kedudukan ilmu kalam dan jahatnya ulama ilmu kalam. Padahal ilmu kalam hanyalah sebagian dari ilmu-ilmu filsafat.
Penutup
Demikianlah serunya pergolakan antara filsafat dengan Islam dan pergolakan ini terus berlangsung sampai hari ini, bahkan sampai hari kiamat. Ketika orang bersemangat dengan ilmu Al-Qur’an dan A1-Hadits maka filsafat akan terabaikan. Sebaliknya bila orang mulai mengabaikan ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka mereka pun berkecenderungan kuat terhadap filsafat. Oleh karena itu untuk mengantisipasi berbagai kerusakan filsafat, umat Islam harus dibangkitkan semangat mereka mencintai dan mempelajari Ilmu Al-Qur’an dan AlHadits agar mereka mengerti Al-Haq dan Al-Batil dari berbagai sumber yang haq dan pasti. Dengan begitu mereka dapat menolak kebingungan dan kerancuan filsafat.

7/4/11

PS2 ITU BID'AH "?????????????????????

sunnah is way
revisi 1
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Banyak saudara2 kita sesama muslim yg salah paham akan arti "kullu bid'ah dlolalah" mereka menerjemahkan setiap/semua bid'ah adalah sesat, padahal arti yg tepat adalah sebagian bid'ah adalah sesat. Mereka yg menerjemahkan "semua bid'ah itu sesat" berpandangan "lucu" karena apa?karena sebenarnya mereka juga mengartikan sebagian tapi tidak disadari oleh mereka. mereka bilang bid'ah hanya masalah ibadah bukan masalah dunia,kalau hanya masalah ibadah kan secara akal itu berarti "sebagian" padahal...........

>diambil dari grup Islam dg bid'ah hasannah
:-)----------------------------------------------------------------------------------------------

sudah jelas bid'ah yang dilarang Rasulullah shalallah alaihi wasallam itu adalah 'amalan dalam syariat agama'' bukan barang2 kemajuan zaman seperti sendok mobil motor handphon teve dll
andai barang2 seperti ini dibilang bid'ah maka yg meyebutnya bid'ah itul juga berarti '''seburuk2nya manusia''(berarti dia juga bid'ah pent,coz dia juga barang baru).

RASULULLAH BERSABDA........ sebaik2nya kalam adalah Kalamullah,selurus2nya jalan adalah jalannya Muhammad shalallah alaihi wasallam, seburuk2nya perkara adalah yang diada2kan (dalam urusan agama),setiap yag diada2kan adalah bid’ah, dan seluruh bid’ah adalah keburukan. (HR. Muslim no.867)
Andai yang dimaksud bid’ah itu hal dalam urusan duniawi maka.. . . akan ada hadits jadi seperti ‘’ sebaik-baiknya makan adalah memakai tangan lanjutin dewek ajalah.”
Ini susahnya bila bid’ah itu diartikan dalam masalah duniawi
>>kalau hendak pergi kerja kita ga boleh naik motor ''jupiter Z'' karena ''motor jupetir Z aDalah bid’ah karena sunnahnya kita menunggangi ONTA ''Z '' bisa gak kira2 bayangin andai hal itu terjadi???????
terus
>> karena tak ada larangan tntng membuat syariat baru, maka ''dugem2 , geleng2 didiskotik namun lagunya solawatan n penarinya baca Qur'an maka itu sah2 saja .(maaf ini hanya guyonan)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

adapun hadits2 yang memperkuat seluruh bid'ah itu sesat n yang dimaksud makna bid'ah itu ''mengada2kan syariat baru dalam islam'' bukan barang2 baru sebagaimana hadits


''barang siapa yang mengamalkan satu amalan yang dibuat2 dalam ajaran agama kami padahal ajaran itu bukan berasal dari agama ini,maka amalan tersebut tertolak (Muttafaq alaih)

hadits tersebut mempertegas bahwa amalan bid'ah itu tertolak n terbuang percuma
''amalan yang tidak dicontohkan tertolak''
aku gak yakin yg dimaksud yang dimaksud hadits ini berkenaan dg tata cara jalan harus pakai unta n pakai mobil itu sesat/ makan harus pakai tangan n yng pakai sendok itu gak berkah. bagi yang masih menyisakan dikit aja otak dikepalanya pasti dia mengerti.
karena jelas yang tertolak itu amalan syariat agama yang dibuat2 bukanya barang2 baru.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
andai yang dimaksud bid'ah itu adalah masalah barang2 baru/dunia mungkin hadits itu menjadi
''barang sapa yang membuat2 barang2 baru yang tak pernah ada pada zaman kami maka barang itu adalah kesesatan'' ( H.R WONG EDAN)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

sebenarnya masih banyak hadits yang menerangkan bahwa seluruh bid'ah itu kesesatan
n ini hanya sebagian guna menjelaskan kerancuan pemahaman, karena bayak orang2 yang seenaknya n menganggap enteng perkara bid'ah, sehingga bila mereka diingatkan tentang perbuatan bid'ah yang mereka tekuni maka tanpa bersalah n berat hati serta dg kebodohan mereka menjawab ''lu makan pake apa??pakai sendokan?? bukankah sendok itu bid'ah@@
itu adalah jawaban dari orang yang paling bodoh yang pernah mengaku pemahaman tentang bid'ah.

ini adalah sindiran bg penekun bid'ah
“Katakanlah:”Maukah kamu, kami terangkan tentang orang-orang yang paling merugi amalannya, sia-sia usaha mereka di dunia, dalam keadaan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi 103).
>merasa benar padahal sesungguhnya tercela n hina

tiada hal ajaran syariat yang haq melainkan telah Allah turunkan melalui perantara Muhammad shalallah alaihi wasallam
n tiada lagi peyimpangan terbesar melainkan merasa terbimbing n lebih faqih n merasa bisa membuat syariat /ketetapan yang baru n menandingi sunnah Rasulullah shalallah alaihi wasallam
adapaun orang2 yang bener2 cinta n sayang sama Muhammad shalallah alaihi wasallam maka sunnah itupun sudah lebih dr cukup guna buktikan''

agama ini tidak akan hilang namun yang hilang adalha ahlussunnah yang dikebiri oleh ahlul bid'ah
wallahu ta'ala a'lam

4 juli 2011

6/28/11

AQIDAH syeikh Abdul Qadir Al Jailani

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani menyatakan dalam kitabnya, Al Ghunyah, “Dia (Allah) di arah atas, berada diatas ArsyNya, meliputi seluruh kerajaanNya. IlmuNya meliputi segala sesuatu“. Kemudian beliau menyebutkan ayat-ayat dan hadist-hadist,
...lalu berkata “Sepantasnya menetapkan sifat istiwa’ (Allah berada diatas ‘arsyNya) tanpa takwil (menyimpangkan kepada makna lain). Dan hal itu merupakan istiwa’ dzat Allah di atas Arsy“.

Ali bin Idris pernah bertanya kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, “Wahai tuanku, apakah Allah memiliki wali ( kekasih ) yang tidak berada di atas aqidah (Imam) Ahmad bin Hambal?”

Maka beliau menjawab, “Tidak pernah ada dan tidak akan ada.”

Perkataan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tersebut juga dinukilkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Istiqamah I/86. Semua itu menunjukkan kelurusan aqidahnya dan penghormatan beliau terhadap manhaj Salaf.


Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil, hal.136, “Aku telah mendapatkan aqidah beliau (Syeikh Abdul Qadir Al Jailani) didalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. Maka aku mengetahui dia sebagai seorang Sal...afi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat
Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf. “ Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau. Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu.

Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali berkata dalam kitabnya, Al Haddul Fashil, hal.136, “Aku telah mendapatkan aqidah beliau (Syeikh Abdul Qadir Al Jailani) didalam kitabnya yang bernama Al Ghunyah. Maka aku mengetahui dia sebagai seorang Sal...afi. Beliau menetapkan nama-nama dan sifat-sifat
Allah dan aqidah-aqidah lainnya di atas manhaj Salaf. Beliau juga membantah kelompok-kelompok Syi’ah, Rafidhah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Salimiyah, dan kelompok lainnya dengan manhaj Salaf. “ Inilah tentang beliau secara ringkas. Seorang ‘alim Salafi, Sunni, tetapi banyak orang yang menyanjung dan membuat kedustaan atas nama beliau. Sedangkan beliau berlepas diri dari semua kebohongan itu.



sumber
http://www.facebook.com/note.php?note_id=194867237231882
oleh Wong Bantul pada 29 Juni 2011 jam 5:45

3/30/11

KEDUSTAAN AHMADIYAH

Bismillaah, wash-shollaatu was salaamu alaa Rosulillah, wa’alaa aalihii washohbihii wa man waalaah…

Dalam tulisan ini, kami akan paparkan ajaran-ajaran ahmadiyah dari kitab mereka sendiri, Tadzkiroh, kitab yang dianggap memuat wahyu-wahyu suci, yang diturunkan oleh Alloh subhanahu wata’ala kepada si nabi palsu, Mirza Ghulam Ahmad (MGA).

Kami, tidak akan berbicara panjang lebar dalam tulisan ini, karena tujuan kami hanyalah untuk memuat fakta yang ada dalam kitab tadzkiroh tersebut. Kami hanya akan menyebutkan akidah mereka, dengan disertai rujukan dari kitab tadzkiroh tersebut. Semoga dengan ini, kita bisa menyingkap tabir yang selama ini menutupi hakekat yang ada.

Yang mendorong kami menulis artikel ini adalah firman Alloh ta’alaوَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: tetaplah memberikan peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu akan selalu memberikan manfaat bagi orang mukmin. (adz-Dzariyat: 55)

Begitu pula sabda Rosululloh –shollallohu alaihi wasallam-:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Artinya: “Agama ini adalah nasehat”. Kami (para sahabat) bertanya: “Untuk siapa (nasehat itu) wahai Rosululloh?”. Rosullulloh menjawab: “Untuk (mengajak ke jalan) Alloh, kitab-Nya, rosul-Nya dan untuk umat islam, baik pemimpin maupun rakyatnya (HR. Bukhori Muslim)

Catatan penting:

Untuk lebih meng-efisien-kan tulisan, selanjutnya nama Mirza Gulam Ahmad kami singkat menjadi (MGA)

Ayat yang nomor halamannya lebih dari satu, menunjukkan bahwa ayat dengan redaksi yang sama, terdapat pada halaman-halaman tersebut.

Berikut ini, kami paparkan sebagian Akidah Ahmadiyah dari kitabnya langsung, yakni Kitab Tadzkiroh:


1. MGA MENDAPAT WAHYU, LANGSUNG DARI ALLOH.

Hal ini diungkapkan dengan jelas dalam Tadzkiroh hal: 43

وخاطبني ربي, وقال: يا أحمد, بارك الله فيك Dan tuhanku berbicara langsung kepadaku (MGA), Dia berkata: “Wahai Ahmad (MGA), Alloh telah memberkahimu.
.

2. MGA ADALAH SEORANG ROSUL UTUSAN ALLOH

Ini adalah hakekat yang tak mungkin dielakkan, bahwa berdasarkan wahyu di dalam Tadzkiroh, MGA adalah seorang Rosul setelah Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam, dan hal ini sangat bertentangan dengan Aquran, Surat al-Ahzab: 40, begitu pula bertentangan dengan banyak hadits yang menerangkan tidak adanya kenabian setelah wafatnya Rosululloh shollallohu alaihi wasallam, bahkan beliau menjuluki mereka yang mengaku nabi atau rosul sepeninggal beliau dengan julukan Dajjal. (lihat HR. Bukhori, no: 3609, dan HR. Muslim, no: 157)

lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh hal: 496

يا أحمد, جعلت مرسلا Wahai ahmad (MGA), kamu telah dijadikan sebagai seorang Rosul
.

3. RAHMAT ALLOH TELAH MEMENUHI KEDUA BIBIR MGA

Di dalam Tadzkiroh firman yang menerangkan hal ini diulang-ulang di beberapa tempat, sebagai contoh, coba anda merujuk Kitab Tadzkiroh pada halaman berikut ini: 50, 98, 322, 366, dan 394-395. Bunyi ayat tersebut adalah:

يا احمد, فاضت الرحمة على شفتيك Wahai Ahmad (MGA), Rahmat Alloh telah memenuhi kedua bibirmu.
.

4. ORANG YANG MENGINGKARI AJARAN MGA ADALAH KAFIR DAN TERLAKNAT.

Mereka menyerukan kerukunan kepada kaum muslimin, tapi ironisnya kitab tadzkiroh menganggap kaum muslimin yang tidak sependapat dengan mereka sebagai orang kafir dan terlaknat.

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 749

أنت إمام مبارك لعنة الله على الذي كفر (-) أنت إمام مبارك لعنة الله على الذي كفر (-) أنت إمام مبارك لعنة الله على الذي كفر (-) Kamu (MGA) adalah pemimpin yang diberkahi, LAKNAT ALLOH ATAS ORANG YANG KAFIR (mengingkarimu) (-) Kamu (MGA) adalah pemimpin yang diberkahi, LAKNAT ALLOH ATAS ORANG YANG KAFIR (mengingkarimu) (-) Kamu (MGA) adalah pemimpin yang diberkahi, LAKNAT ALLOH ATAS ORANG YANG KAFIR (mengingkarimu)
.

5. NAMA ALLOH TIDAK SEMPURNA SEDANG NAMA MGA SEMPURNA.

Sungguh yang benar, adalah sebaliknya. Nama Alloh Jauh lebih sempurna, dan tidak ada bandingannya dengan nama makhluk-Nya. Penulis sangat heran, dan benar-benar heran, apakah akidah seperti ini, masih pantas dianut dan dibela?!!

Firman ini ada diulang-ulang dalam Kitab Tadzkiroh, silahkan merujuknya ke hal: 51, 245, dan 366. Ayat tersebut berbunyi:

يا أحمد، يتم إسمك ولا يتم إسمي Wahai Ahmad (MGA), namamu sempurna, sedang nama-Ku tidak sempurna
.

6. MGA MEMPOSISIKAN DIRINYA, SEBAGAIMANA POSISI NABI ADAM alaihissalam

Kami mengatakan demikian karena ke-sembrono-an MGA yang menjiplak ayat suci al-Qur’an yang ditujukan kepada Nabi Adam alaihissalam, kemudian mengganti nama Nabi Adam dengan namanya sendiri. Itulah maksud perkataan kami bahwa: “MGA memposisikan dirinya, sebagaimana posisi Nabi Adam”. Anda bisa merujuk ayat tersebut dalam kita tadzkiroh halaman berikut ini: 72, 368, 396, dan 628. Bunyi ayat tersebut adalah:

يا أحمد, اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ Wahai Ahmad (MGA), tinggallah kamu dan isterimu di surga ini!


Di dalam kitab suci Alquran, ayat ini adalah perintah untuk Nabi Adam alaihissalam, tapi redaksi “Wahai (Nabi) Adam” dirubah oleh MGA menjadi “Wahai Ahmad (MGA)”. (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Al-baqoroh: 35 dan Al-a’rof 19)
.

7. MGA MEMPOSISIKAN DIRINYA, SEBAGAIMANA POSISI NABI NUH alaihissalam

Tindakan MGA ini sama dengan sebelumnya, hanya berbeda nama nabi yang dirubahnya, kali ini ia merubah arah sasaran ayat yang semula untuk Nabi Nuh alaihissalam, ia rubah sehingga mengarah kepada dirinya sendiri. Anda bisa merujuknya ke Kitab Tadzkiroh halaman: 379, dan inilah bunyi ayat dalam tadzkiroh tersebut:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا Dan buatlah bahtera itu (Wahai MGA) dengan pengawasan dan petunjuk wahyu kami
Di dalam kitab suci Alquran, ayat ini adalah perintah untuk Nabi Nuh alaihissalam, tapi oleh MGA arah sasaran ayat ini dibelokkan, sehingga menjadi perintah untuk dirinya, padahal situasinya sangat berbeda, Nabi Nuh membuat bahtera disebabkan akan adanya banjir bandang yang menenggelamkan bumi. Sedangkan MGA….??? (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Hud: 37 dan Al-mukminun: 27)
.

8. MGA MEMPOSISIKAN DIRINYA, SEBAGAIMANA POSISI NABI IBROHIM alaihissalam.

Ia juga ingin memposisikan dirinya sebagai Nabi Ibrohim alaihissalam, lihatlah kitab tadzkiroh halaman: 279, 366, dan 629. Bunyi ayat tadzkiroh tersebut adalah sebagai berikut:

إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا Sesungguhnya aku menjadikan engkau (MGA) sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.
Di dalam kitab suci Alquran, sasaran ayat ini adalah Nabi Ibrohim alaihissalam, tapi oleh MGA sasaran ayatnya diselewengkan, sehingga mengarah kepada dirinya sendiri. (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Al-baqoroh: 124)
.

9. MGA MEMPOSISIKAN DIRINYA, SEBAGAIMANA POSISI NABI MUSA alaihissalam.

Kedudukan Nabi Musa juga tidak luput dari jamahannya, firman Alloh ta’ala yang ditujukan kepada Nabi Musa alaihissalam, ia rubah menjadi tertuju kepadanya. Lihatlah dalam Tadzkiroh halaman: 277

أَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي Aku telah melimpahkan kepada engkau (MGA) kasih sayang yang datang dari-Ku
Di dalam kitab suci Alquran, sasaran ayat ini adalah Nabi Musa alaihissalam, tapi oleh MGA, arah sasarannya dirubah, sehingga mengarah kepada dirinya. (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Thoha: 39)
.

10. MGA MEMPOSISIKAN DIRINYA, SEBAGAIMANA POSISI NABI ISA alaihissalam

Kepada Nabi Isa alaihissalam, ia juga melakukan hal yang sama, memposisikan dirinya sebagai Nabi Isa alaihissalam, bahkan dalam sebuah ayat ia mengaku sebagai al-Masih putra Maryam alaihissalam. Silahkan merujuk ke Kitab Tadzkiroh halaman: 62, 98, 519, 569

إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ، وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ Sesungguhnya aku mewafatkanmu (MGA), dan mengangkat kamu kepada-Ku, serta menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kafir sampai hari kiamat
Di dalam kitab suci Alquran, sasaran ayat ini adalah Nabi Isa alaihissalam, tapi oleh MGA dibelokkan, sehingga mengarah kepada dirinya. (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Ali Imron: 55)
.

Lihat ayat berikut dalam kitab Tadzkiroh, halaman: 98

وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (MGA) Sebagai orang terkemuka di dunia dan di akhirat serta termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Alloh)
Ayat ini sebenarnya adalah untuk Nabi Isa alaihissalam, tapi si nabi palsu tersebut mengarahkannya kepada dirinya (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Ali Imron: 45)
.

Lihat ayat berikut dalam kitab Tadzkiroh, halaman: 496, 569

الحمد لله الذي جعلك المسيح ابن مريم Segala puji bagi Alloh yang telah menjadikanmu (MGA) sebagai al-Masih putra Maryam
.

Lihat ayat berikut dalam kitab Tadzkiroh, halaman: 519

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ للمسيح الموعود Sesungguhnya Kami menurunkannya (Tadzkiroh) untuk al-Masih yang ditunggu-tunggu (MGA)
.

11. MGA MEMPOSISIKAN DIRINYA, SEBAGAIMANA POSISI NABI MUHAMMAD shollallohu alaihi wasallam

Nabi Muhammad adalah Rosul yang paling utama, oleh karenanya MGA paling banyak memposisikan dirinya sebagai Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-.

lihatlah sebagai contoh, ayat-ayat dalam Tadzkiroh berikut ini pada halaman: 62, 81, 224, 277, 378, 495, 360

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ Katakanlah (MGA)! “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, maka ikutilah aku! niscaya Alloh mencintai kalian”
Di dalam kitab suci Alquran, Ayat ini tidak lain adalah perintah kepada Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam, tapi MGA menjiplaknya, dan mengarahkannya kepada dirinya (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Ali Imron: 31)
.

Lihat ayat berikut dalam kitab Tadzkiroh, halaman: 83, 396

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ Dan tidaklah kami mengutusmu (MGA) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam
Di dalam kitab suci Alquran, Ayat ini merupakan keistimewaan untuk Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam, tapi MGA menodai keistimewaan itu, dan menjadikan dirinya seperti Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam. (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Al-anbiya’: 107)
.

Lihat ayat berikut dalam kitab Tadzkiroh, halaman: 97

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ Muhammad (yakni MGA) itu adalah utusan Alloh, dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang kepada sesama mereka.
Subhanalloh… bahkan ayat yang nyata-nyata menyebut nama Muhammad pun diselewengkan oleh MGA, dan mengatakan bahwa yang dimaksud Muhammad adalah dirinya (MGA) (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Al-fath: 29)
.

Lihat ayat berikut dalam kitab Tadzkiroh, halaman: 98

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu (MGA) nikmat yang banyak, maka dirikanlah sholat karena tuhanmu dan berkorbanlah!
Di dalam ayat suci Alquran, Ulama Islam sepakat, bahwa sasaran ayat ini adalah Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam, tapi oleh MGA dibelokkan, sehingga mengarah kepada dirinya. (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Al-kautsar: 1-2)
.

Lihat ayat berikut dalam kitab Tadzkiroh, halaman: 98

وَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ – الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ – وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ Kami telah menghilangkan beban darimu (MGA) yang memberatkan punggungmu, dan kami pun telah meninggikan bagimu (MGA) sebutan (nama) mu
Di dalam kitab suci Alquran, firman ini adalah untuk Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam, tapi oleh MGA ayat ini dinodai, dengan merubah sasaran ayat ini mengarah kepada dirinya. (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Al-insyiroh: 2-4)
.

Lihat ayat berikut dalam kitab Tadzkiroh, halaman: 372

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ Katakanlah (MGA), “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya sesembahan kalian adalah sesembahan yang maha esa.”
Naudzubillah minal khudzlan… akibat tindakan menodai ayat suci Alquran ini, si MGA dengan PD-nya mengalamatkan ayat ini kepada dirinya, padahal di dalam kitab suci alquran, ayat ini adalah perintah untuk Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Al-kahfi: 110 dan Fush-shilat: 6)
.

Lihat ayat berikut dalam kitab Tadzkiroh, halaman: 379

الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ، يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ Orang-orang yang berjanji setia kepadamu (MGA), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Alloh, Tangan Alloh di atas tangan mereka.
Di dalam Alquran, ayat ini adalah untuk Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam, tapi MGA mengarahkannya kepada dirinya. (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Al-fath: 10)
.

Lihat ayat berikut dalam kitab Tadzkiroh, halaman: 495

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ Sesungguhnya Kami memeliharamu (MGA), dari mereka yang mencaci-makimu
Ayat ini dalam Alquran adalah untuk Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam, tapi MGA menyematkannya untuk dirinya sendiri. (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Al-hijr: 95)
.

12. MEMPOSISIKAN TADZKIROH, SEBAGAIMANA POSISI ALQUR’AN

Inilah yang menjadi sebab utama, kenapa kaum muslimin mengatakan bahwa Tadzkiroh adalah kitab suci kaum Ahmadiyah. Meskipun banyak diantara mereka (kaum Ahmadiyah) tidak mengatakan bahwa Tadzkiroh adalah kitab suci, tapi kenyataan yang ada dalam wahyu-wahyu Tadzkiroh menunjukkan, bahwa MGA menganggap Tadzkiroh setara dengan Alquran, sebagaimana Alquran adalah kitab suci, Tadzkiroh juga kitab suci. Diantara bukti yang mendukung kesimpulan kami ini adalah, banyaknya wahyu-wahyu di dalam Tadzkiroh, yang mensejajarkan antara Tadzkiroh dengan Alquran. Coba anda perhatikan wahyu-wahyu dalam Tadzkiroh berikut ini:

Tadzkiroh, halaman: 76, 278, 377, 637, dan 369

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ Dan Kami telah menurunkan (Tadzkiroh) ini dengan sebenarnya, dan (Tadzkiroh) ini turun dengan membawa kebenaran.
Di dalam kitab suci Alquran, sasaran ayat ini adalah kitab suci Alquran, tapi oleh MGA, arah sasaran ayat tersebut dibelokkan, sehingga mengarah kepada Tadzkiroh. (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Al-isro’: 105)
.

Tadzkiroh, halaman: 122, 382

لَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا Sekiranya ia (Tadzkiroh) itu bukan dari sisi Alloh, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.
Ayat ini, dalam kitab suci Alquran, adalah merupakan keistimewaan Alquran, inilah diantara bentuk mukjizat Alquran yang tidak dimiliki oleh kitab-kitab suci lain. Tapi ternyata keistimewaan itu dinodai oleh ulah MGA, dengan menjadikan Tadzkiroh-nya sejajar dengan Alquran, sebagaimana Alquran tidak ada pertentangan di dalamnya, begitu pula Tadzkiroh!!! Padahal sesungguhnya perbedaan antara keduanya, bagaikan perbedaan antara langit dan bumi… (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat An-nisa’: 82)
.

Tadzkiroh, halaman: 254

إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا أيدنا عَبْدَنَا فَأْتُوا بكتاب مِنْ مِثْلِهِ Jika kalian (tetap) meragukan apa yang kami kuatkan hamba kami (MGA) dengannya (Tadzkiroh), maka buatlah satu kitab (saja) yang menyamainya.
Subhanalloh… lihatlah ayat ini… bandingkan dengan ayat yang ada dalam Alquran, surat Albaqoroh, ayat: 23. Kalau saja MGA tidak mengakui Tadzkiroh-nya sebagai kitab suci, mengapa dia mendatangkan ayat-ayat yang sebenarnya ditujukan kepada Alquran, kemudian ia rubah menjadi tertuju kepada Tadzkiroh???!
.

Tadzkiroh, halaman: 523, 609

إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نزّلنا على عَبْدِنَا فَأْتُوا بشِفاءٍ مِنْ مِثْلِهِ Jika kalian (tetap) meragukan apa yang kami turunkan kepada hamba kami (MGA, yakni Tadzkiroh), maka buatlah satu obat (saja) yang menyamainya
Ayat ini, mirip dengan ayat sebelumnya, cuma ada sedikit perbedaan redaksi. Lihat ayat ini dalam Alquran surat Albaqoroh: 23, dan nilailah sendiri bagaimana MGA dengan beraninya, menjadikan Tadzkiroh-nya menduduki posisi Alquran.
.

Tadzkiroh, halaman: 519, 564,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Tadzkiroh) di malam lailatul qodar
La haula wala quwwata illa billah… penulis yakin jarang sekali kaum muslimin yang tidak hafal ayat ini, dan mereka pun tahu bahwa maksud ayat ini dalam kitab suci Alquran adalah Alquran itu sendiri, tapi lagi-lagi MGA mengarahkannya kepada kitab Tadzkiroh-nya. Sungguh tindakan yang sangat jauh di luar batas kewajaran. (Lihat ayat ini dalam Alquran, surat Alqodar, ayat:1)
.

Tadzkiroh, halaman: 595, 709

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ Inilah ayat-ayat kitab (Tadzkiroh) yang jelas (makna dan lafalnya)
Di dalam Aquran sasaran Ayat ini adalah Alquran, tapi si nabi palsu MGA, menggubahnya dengan mengarahkannya ke kitab Tadzkiroh-nya. Apakah setelah mengetahui ini semua, masih ada yang ragu mengatakan bahwa menurut MGA, Tadzkiroh itu seperti Alquran, yakni kitab suci???! Memang penjahat tidak akan mengakui kejahatannya, walaupun banyak fakta yang telah membuktikan kejahatannya… (Lihat ayat ini dalam Alquran, Surat Yusuf: 1, Asy-syu’aro: 2 dan Al-qoshosh: 2)
.

13. ALLOH MEMILIKI BANYAK ANAK, DAN DIA MEMPOSISIKAN MGA SEPERTI ANAK-ANAKNYA.

Mulai poin ke-13 ini, komentar kami serahkan kepada para pembaca, tidak lain tujuan kami adalah, agar tulisan ini tidak menjadi semakin panjang, juga agar anda lebih bisa menghayati sendiri kesesatan nyata yang ada di dalamnya.

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 436

أنت مني بمنزلة أولادي Kamu (MGA) di sisi-Ku memiliki kedudukan seperti anak-anak-Ku
.

14. MGA ADALAH TUJUAN ALLOH

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 83, 224, 242, 279, 293, 366, 394, 496, 569, 629

يا أحمدي, أنت مرادي Wahai ahmad-Ku (MGA), engkau adalah tujuan-Ku
.

15. ALLOH MENYEMATKAN KEMULIAAN MGA DENGAN TANGAN-NYA SENDIRI.

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 83, 242, 366, 394-395

غرست كرامتك بيدي Aku telah menyematkan kemulianmu (MGA) dengan tangan-Ku sendiri
.

16. RAHASIA MGA ADALAH RAHASIA ALLOH juga

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 98, 394, 496, 629

سرك سري Rahasiamu (MGA) adalah rahasia-Ku (juga)
.

17. ISTRI MGA DAN KERABATNYA, TERMASUK KELUARGANYA ALLOH

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 138

اعلم أن زوجة أحمد وأقاربها كانوا من عشيرتي Ketahuilah, bahwa isteri ahmad (MGA) dan kerabat-kerabat dekatnya itu adalah termasuk keluarga-Ku juga.
.

18. MEMILIH MGA SEBAGAI ROSUL, ADALAH KEPERLUAN ALLOH SENDIRI.

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 224, 246, 277, 394-395, 495-496, 569

اخترتك لنفسي Aku memilihmu untuk diri-Ku
.

19. KEMULIAAN MGA DI SISI ALLOH TIDAK DIKETAHUI OLEH SELURUH MAKHLUK-NYA.

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 246, 396, 495-496, 569

أنت مني بمنزلة لا يعلمها الخلق Kamu (MGA) di sisi-Ku memiliki kedudukan yang tidak diketahui oleh seluruh makhluk
.

20. ALLOH MENGABULKAN SEMUA DOA MGA

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 294

يا أحمد أجيب كل دعائك إلا في شركائك Wahai Ahmad (MGA), aku akan mengabulkan setiap permohonan dalam doamu, kecuali dalam hal sekutu-sekutumu
.

21. MGA BERASAL DARI ALLOH, DAN ALLOH BERASAL DARI MGA

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 436

أنت مني وأنا منك Kamu (MGA) berasal dari-Ku dan Aku berasal darimu.
.

22. JIKA MGA MARAH, ALLOH JUGA MARAH

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 495-496, 569

إذا غضبت غضبت وكلما أحببت أحببت Apabila engkau (MGA) marah, maka aku pun marah. Dan setiap kali kamu menyayangi (seseorang), maka Aku pun menyayangi (dia)
.

23. ALLOH BERJALAN MENUJU KE ARAH MGA

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 496

يحمدك الله ويمشي إليك Alloh memujimu (MGA) dan berjalan ke arahmu
.

24. MGA MEMILIKI HAK UNTUK DI TAUHID-KAN DAN DI-ESA-KAN

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 394-395, 495-496, 569

أنت مني بمنزلة توحيدي وتفريدي Kamu (MGA) di sisi-Ku memiliki kedudukan tauhid-Ku dan keesaan-Ku
.

25. MGA DARI AIRNYA ALLOH

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 496

أنت من ماءنا وهم من فشل Kamu (MGA) berasal dari air Kami, sedangkan mereka dari sesuatu yang gagal
.

26. ALLOH MELEBIHKAN MGA, DI ATAS SEGALA SESUATU.

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 569

أثرك الله على كل شيء Alloh telah melebihkan kamu (MGA) di atas segala sesuatu
.

27. GARIS KETURUNAN NENEK MOYANG MGA PUTUS, DAN DIMULAI LAGI DARI MGA

Lihat ayat berikut dalam Tadzkiroh, halaman: 277

ينقطع آباءك ويبدأ منك (Garis keturunan) nenek moyangmu (MGA) terputus dan dimulai (lagi) darimu.
Demikian… artikel ini kami buat… mudah-mudahan memberikan manfaat bagi para pembaca yang budiman, amin… Harapan penulis dari tulisan ini adalah terbukanya wawasan masyarakat muslim, agar mereka mengetahui isi ajaran yang diemban oleh Kitab Tadzkiroh-nya kaum Ahmadiyah, sehingga menjadi semakin jelas perbedaan antara Ajaran Islam dan Ajaran Tadzkiroh… bukan maksud kami memecah belah umat, tapi justru sebaliknya, maksud kami dari tulisan ini adalah menyatukan umat pada akidah dan agama yang sama…

Addariny
Madinah, 19 Juni 2009 M / 26 jumada tsani 1430 H

______
Tambahan dari kolom komentar di blog beliau:

Semoga Alloh menyelamatkan kita dari sesatnya akidah ini…
Dengan tindakan amat beraninya itu, wajar kalau akhirnya MGA menuai buah pahitnya sebelum matinya… sebagaimana ditulis dalam sebuah artikel “Akhir kehidupan yang menghinakan” berikut ini:

Ajaran Ahmadiyah banyak mendapat penentangan dari para ulama di India. Di antara ulama yang terdepan menentangnya adalah Asy-Syaikh Tsana`ullah Al-Amru Tasri. Karena geram, Ghulam Ahmad akhirnya mengeluarkan pernyataan pada tanggal 15 April 1907 yang ditujukan kepada Asy-Syaikh Tsana`ullah. Di antara bunyinya:

“…Engkau selalu menyebutku di majalahmu (‘Ahlu Hadits’) ini sebagai orang terlaknat, pendusta, pembohong, perusak… Maka aku banyak tersakiti olehmu… Maka aku berdoa, jika aku memang pendusta dan pembohong sebagaimana engkau sebutkan tentang aku di majalahmu, maka aku akan binasa di masa hidupmu. Karena aku tahu bahwa umur pendusta dan perusak itu tidak akan panjang… Tapi bila aku bukan pendusta dan pembohong bahkan aku mendapat kemuliaan dalam bentuk bercakap dengan Allah, serta aku adalah Al-Masih yang dijanjikan maka aku berdoa agar kamu tidak selamat dari akibat orang-orang pendusta sesuai dengan sunnatullah.

Aku umumkan bahwa jika engkau tidak mati semasa aku hidup dengan hukuman Allah yang tidak terjadi kecuali benar-benar dari Allah seperti mati dengan sakit tha’un, atau kolera berarti AKU BUKAN RASUL DARI ALLAH…

Aku berdoa kepada Allah, wahai penolongku Yang Maha Melihat, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berilmu, Yang mengetahui rahasia qalbu, bila aku ini adalah pendusta dan perusak dalam pandangan-Mu dan aku berdusta atas diri-Mu malam dan siang hari, ya Allah, maka matikan aku di masa hidup Ustadz Tsana`ullah. Bahagiakan jamaahnya dengan kematianku –Amin–.

Wahai Allah, jika aku benar dan Tsana`ullah di atas kesalahan serta berdusta dalam tuduhannya terhadapku, maka matikan dia di masa hidupku dengan penyakit-penyakit yang membinasakan seperti tha’un dan kolera atau penyakit-penyakit selainnya….

Akhirnya, aku berharap dari Ustadz Tsana`ullah untuk menyebarkan pernyataan ini di majalahnya. Kemudian berilah catatan kaki sekehendaknya. Keputusannya sekarang di tangan Allah”.

Penulis, hamba Allah Ash-Shamad, Ghulam Ahmad, Al-Masih Al-Mau’ud. Semoga Allah memberinya afiat dan bantuan. (Tabligh Risalat juz 10 hal. 120)

Apa yang terjadi setelah berlalu 13 bulan 10 hari dari waktu itu? justru Ghulam Ahmad yang diserang ajal. Doanya menimpa dirinya sendiri.

Putranya Basyir Ahmad menceritakan:

“Ibuku mengabarkan kepadaku bahwa Hadrat (Ghulam Ahmad) butuh ke WC langsung setelah makan, lalu tidur sejenak. Setelah itu butuh ke WC lagi. Maka dia pergi ke sana 2 atau 3 kali tanpa memberitahu aku. Kemudian dia bangunkan aku, maka aku melihatnya lemah sekali dan tidak mampu untuk pergi ke ranjangnya. Oleh karenanya, dia duduk di tempat tidurku. Mulailah aku mengusapnya dan memijatnya. Tak lama kemudian, ia butuh ke WC lagi. Tetapi sekarang ia tidak dapat pergi ke WC, karena itu dia buang hajat di sisi tempat tidur dan ia berbaring sejenak setelah buang hajat. Kelemahan sudah mencapai puncaknya, tapi masih saja hendak buang air besar. Diapun buang hajatnya, lalu dia muntah. Setelah muntah, dia terlentang di atas punggungnya, dan kepalanya menimpa kayu dipan, maka berubahlah keadaannya.” (Siratul Mahdi hal. 109 karya Basyir Ahmad)

Mertuanya juga menerangkan:

“Malam ketika sakitnya Hadhrat (Ghulam Ahmad), aku tidur di kamarku. Ketika sakitnya semakin parah, mereka membangunkan aku dan aku melihat rasa sakit yang dia derita. Dia katakan kepadaku, ‘Aku terkena kolera.’ Kemudian tidak bicara lagi setelah itu dengan kata yang jelas, sampai mati pada hari berikutnya setelah jam 10 pagi.” (Hayat Nashir Rahim Ghulam Al-Qadiyani hal. 14)

Pada akhirnya dia mati tanggal 26 Mei 1908.

Sementara Asy-Syaikh Tsana`ullah tetap hidup setelah kematiannya selama hampir 40 tahun. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala singkap tabir kepalsuannya dengan akhir kehidupan yang menghinakan, sebagaimana dia sendiri memohonkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kini siapa yang sadar dan bertobat setelah tersingkap kedustaannya?
Sungguh akhir hidup yang tragis, semoga kita bisa mengambil ibroh dari kisah ini, sehingga kita hidup dengan selamat sampai akhir hayat, di dunia dan akhirat…

Artikel: addariny.wordpress.com dipublikasi ulang oleh Moslemsunnah.Wordpress.com

3/10/11

MAKNA KALIMAT TAUHID "LAILAHA ILALLAH"

Masih seputar kekeliruan di dalam memaknai La ilaha Illallah. Sebagian orang memaknai La ilaha Illallah dengan makna, “Tidak ada dzat yang mencipta alam semesta ini selain Allah”.
Lho, dari sisi mana pernyataan ini keliru? Bukankah benar bahwa memang tidak ada pencipta selain Allah? Bukankah penciptaan adalah sifat khusus yang hanya dimiliki oleh Allah Ta’ala?
Benar. Pernyataan itu sendiri pada dasarnya adalah pernyataan yang benar. Memang, tidak ada dzat yang mencipta alam semesta ini kecuali Allah saja. Tidak ada yang salah dari pernyataan ini. Akan tetapi, ketika pernyataan ini diklaim sebagai makna dari kalimat “La ilaha Illallah”, maka disinilah perlunya ada pembahasan!
Kembali ke zaman jahiliyah, kita dapatkan bahwasanya Abu Jahal, Abu Lahab bahkan bangsa quraisy mayoritasnya -kalo tidak bisa dibilang semuanya-, bukanlah orang-orang yang hidup tanpa adanya keyakinan yang dipegang. Memang mereka bukan pemeluk agama yahudi. Bukan juga nasrani (kristen). Akan tetapi mereka mengaku sebagai pemeluk agama nabi Allah Ibrahim ‘alaihi assalam. Hanya seiringnya waktu yang sangat panjang, akhirnya banyak sekali ajaran-ajaran Ibrahim yang terlupakan bahkan tergantikan dengan beberapa ajaran yang sama sekali bukan berasal dari Nabi Ibrahim ‘alaihi assalam. Di antara ajaran yang jauh sekali penyimpangannya, ketika bangsa Arab mengambil berhala-berhala sebagai sesembahan mereka. Ini tentu saja sangat bertentangan dengan ajaran Tauhid yang dibawa oleh Ibrahim alaihi assalam.
Dengan sejarah yang demikian, maka bangsa Arab bukanlah bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka kenal Allah. Bahkan mereka beribadah kepada Allah seperti contohnya ibadah haji yang dilakukan tiap tahun. Bahkan mereka mengetahui dan berkeyakinan bahwasanya Allah adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur alamnya.
Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Dan seandainya engkau bertanya kepada mereka siapakah yang telah menciptakan langit-langit dan bumi, dan siapakah yang telah menundukkan matahari dan bumi? Mereka pasti akan menjawab “Allah!” Lalu bagaimana mereka bisa berpaling?” (Al Ankabut 61)
Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit kemudian menghidupkan bumi dengan air tersebut setelah matinya? Maka mereka akan menjawab “Allah!” Katakanlah, “Alhamdulillah!” Bahkan mayoritas mereka tidak memahami.” (Al Ankabut 63)
Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang telah menciptakan mereka? Maka mereka akan menjawab “Allah!” Lalu bagaimana mereka bisa berpaling?” (Az Zukhruf 87)
Mereka sangat tahu, bahkan sangat yakin bahwasanya Allah adalah dzat yang menciptakan mereka, langit-langit dan bumi, alam semesta ini, memberi rezeki kepada mereka, mengatur alam ini.
Lalu, apa kaitannya dengan pemaknaan “La ilaha Illallah” di atas?
Kaitannya adalah kalau seandainya yang diinginkan dari kalimat “La ilaha Illallah” ini yaitu “Tidak ada pencipta selain Allah” berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membawa ajaran yang baru, yang tidak dikenal oleh bangsa quraisy. Bahkan -kalau memang demikian- ajaran tersebut merupakan aqidah dan keyakinan bangsa quraisy pada waktu itu.
Lantas, apa yang membuat mereka sedemikian benci dan memusuhinya bahkan menyiksa dan membunuh orang-orang yang mengikuti ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Pasti ajaran dan keyakinan yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bertentangan dengan aqidah dan keyakinan bangsa quraisy pada waktu itu. Pastilah kalimat “La ilaha Illallah” yang diserukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai makna yang sangat bertentangan dengan aqidah dan keyakinan bangsa quraisy pada waktu itu.
Kalau begitu, apa maknanya sehingga bangsa quraisy sangat menentang ajaran ini?
Kalau kita merunut kembali kepada catatan sejarah masa lalu, maka kita akan dapatkan bahwa pada waktu itu bangsa quraisy menyembah dan beribadah kepada banyak berhala. Bahkan disekitar ka’bah ada sekitar 360 berhala. Berhala-berhala yang paling terkenal adalah laatta, ‘uzza, manaat, dan hubal. Mereka menyembah berhala-berhala ini, bernadzar di hadapannya, menyembelih untuk mereka dan di hadapan mereka, bersumpah atas nama mereka, dan sangat mengagungkan mereka. Ya, mereka memang beribadah kepada Allah seperti contohnya ibadah haji. Akan tetapi, selain mereka beribadah kepada Allah, mereka juga beribadah kepada berhala-berhala mereka. Mereka menyerahkan hak peribadatan yang semestinya hanya boleh diserahkan kepada Allah, kepada berhala-berhala mereka. Mereka beralasan bahwa berhala-berhala tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah Ta’ala sebagaimana Allah jelaskan (artinya):
“Dan orang-orang yang menjadikan selain dari Allah sebagai wali-wali mereka berkata “Tidaklah kami beribadah kepada mereka kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah” (Az Zumar 3 )
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah, maka pertama kali yang diserukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seruan untuk meninggalkan semua peribadatan yang ada kecuali peribadatan kepada Allah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru bangsa quraisy untuk meninggalkan peribadahan kepada berhala-berhala mereka dan hanya beribadah kepada Allah semata. Beliau menyerukan kalimat “La ilaha illallah” yang merupakan dakwah dari seluruh nabi dan rasul sebagaimana Allah Ta’ala jelaskan (artinya):
“Dan tidaklah Kami utus sebelum engkau seorang rasulpun kecuali Kami wahyukan kepadanya “La ilaha illa ana” (Tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Aku), maka beribadahlah kalian kepadaku saja.”(Al Anbiya 25)
Begitu juga Allah berfirman (artinya):
“Kami telah mengutus bagi setiap umat seorang rasul (yang mereka menyerukan kepada umatnya), “Beribadahlah kalian kepada Allah saja dan jauhilah thogut” (An Nahl 36)
Begitu juga di dalam Shohih Al Bukhari, Abu Sufyan menceritakan kisahnya ketika dia ditanya oleh Kaisar Romawi Heraklius tentang sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Heraklius bertanya, “Apa yang dia perintahkan kepada kalian?” Abu Sufyan menjawab, “Dia menyeru kepada kami, “Beribadahlah kalian kepada Allah saja dan jangan kalian berbuat syirik kepadaNya dengan suatupun! Tinggalkanlah perkataan nenek-nenek moyang kalian!” Dan dia memerintah kami sholat, zakat, jujur, menjaga kehormatan, dan menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhori).
Inilah dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menyerukan kalimat “La ilaha Illallah”. Beliau menyerukan agar bangsa quraisy meninggalkan peribadatan-peribadatan kepada berhala-berhala mereka karena ini adalah bentuk peribadatan yang batil. Beliau menyeru agar umatnya hanya beribadah kepada yang berhak untuk diibadahi yaitu Allah saja. Inilah makna “La ilaha Illallah”. Seruan untuk meninggalkan seluruh sesembahan dan peribadatan yang batil dan hanya menyerahkan peribadatan kepada yang berhak yaitu Allah semata. Tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah semata. Allah Ta’ala berfirman (artinya):
“Demikian itu karena Allah lah yang Maha Benar, dan apa yang mereka seru dan ibadahi selain Allah adalah bathil.” (Al Haj 62)
Ketika mereka bangsa quraisy mendengar seruan “La ilaha Illallah” ini merekapun kaget dan berkomentar (artinya):
“Apakah dia hendak menjadikan sesembahan yang banyak tersebut menjadi satu sesembahan saja? Sungguh ini adalah perkara yang mengherankan!”(Shod 5).
Artinya mereka paham, bahwa makna dari “La ilaha Illallah” tidaklah diinginkan darinya pengakuan cuma ada satu pencipta saja. Mereka paham bahwa penciptaan hanya milik Allah sebagaimana penjelasan sebelumnya di atas. Mereka paham bahwa makna “Ilah” dalam bahasa arab adalah “Ma’bud” yaitu sesuatu yang diibadahi. Mereka juga paham bahwa yang diinginkan dari makna “La ilaha Illallah” ini adalah “Tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah saja”. Artinya, peribadatan yang mereka lakukan untuk berhala-berhala mereka dianggap suatu yang batil. Akibatnya mereka marah, gelisah, geram, dan akhirnya memusuhi serta menentang dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ya, inilah makna yang benar dari “La ilaha Ilallah”. “Tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah”. Makna yang dipahami oleh bangsa quraisy sehingga mereka akhirnya memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan segenap kaum muslim. Makna yang dipahami oleh Abu Jahal, Abu Lahab dan seluruh pembesar-pembesar quraisy. Makna yang membuat mereka marah, geram, kesal, dan murka karena tuhan-tuhan mereka dianggap batil. Makna yang ternyata sebagian dari umat muslim saat ini keliru dalam memahaminya. Wallahul Musta’an